Samarinda, Nitizen – Euforia kasus meninggalnya balita atas nama Muhammad Yusuf Ghodzali usia 3 hingga 4 tahun ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan warga Samarinda.

Menurut informasi yang di himpun oleh Nitizen, kasus Yusuf dianggap memiliki banyak kejanggalan, belum lagi uangkapan sekelompok relawan Kemanusiaan yang mengatas namakan diri mereka sebagai Tim Reaksi Cepat Tanggap Perlindungan Anak (TRC-PA) Provinsi Kalimantan Timur dan beberapa relawan lainnya mengatakan kejanggalan dari penemuan mayat balita di anak Sungai Antasari II tersebut sempat dinyatakan pihak kepolisian sebagai Yusuf yang hilang di tempat penitipan anak sekaligus sebagai Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini Jannatul Athafaal di Jalan Aw Syahrani Rt.12 No.11 Kecamatan Samarinda Ulu.

Tim Reaksi Cepat Tanggap Perlindungan Anak (TRC-PA) Provinsi Kalimantan Timur
Tim Reaksi Cepat Tanggap Perlindungan Anak (TRC-PA) Provinsi Kalimantan Timur

Ini ditafsir dari pengakuan ibu Yusuf yang meyakini dari pakaian yang di kenakan mayat balita tersebut sama persis dengan baju yang dikenakan yusuf saat hari dimana yusuf menghilang.

Rina Zainun selaku ketua TRC-PA Kaltim mengatakan, kasus yusuf hingga saat ini masih ditangani oleh pihak kapolsek Samarinda Ulu. Rina mengakui lamanya penanganan kasus yusuf ini membuat Rina tidak mampu membendung segala asumsi masyarakat yang mengatakan kecewa atas kinerja pihak kepolisian.

Berita Terkait  Tetap Waspada, Pasien Covid-19 Meninggal di Indonesia Persentasenya Tinggi

Namun rina meminta agar masyarakat dapat mempercayakan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk mengusut hingga perkara ini menjadi terang.

“saya menanggapi asusmi masyarakat tentang kinerja kepolisian di kasus ini, dan memang ini masih di pegang oleh pihak polsek Samarinda Ulu, semalam saya konfirmasi ke intel Polres samarinda, dan mereka bilang kasus ini belum ada pelimpahan ke Polres. Jadi masih di polsek. Selain sabar apa lagi yang bisa kami lakukan.” Uangkapnya

Rina yang mendapatkan Kuasa Penuh oleh kedua orang tua Yusuf ini mengaku sempat geram dengan penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.

“entah ini di lambat lambatkan, entah ini tidak di prioritaskan atau entah apa. Dalam kacamata kami kepolisian Samarinda Ulu memberikan keterangannya hanya sebatas lisan. Ya katanya sedang di proses dan sekarang masuk tahap menunggu hasil DNA kepada mayat balita yang di temukan di anak sungai Antasari II itu. Apakah itu yusuf atau bukan,” terang Rina

Dalam pantauan Nitizen, TRC-PA terus melakukan aksi-aksi sosial sebagai bentuk keprihatinan terhadap keluarga korban pun juga kepada balita yusuf. Selain prihatin, para relawan dan aktivis kemanusiaan tersebut juga tak lelah untuk mengawal kasus tersebut.

Berita Terkait  Cerita Wali Kota Balikpapan Kerap Berkelahi dengan Pasien Covid-19

Indikasi adanya pembunuhan kepada balita yusuf terus menjadi perbincangan luas di kota Samarinda. Tidak hanya masyarakat, pemerintah serta anggota Dewan RI turut angkat bicara.

Salah satu anggota Dewan yang merespon kasus ini ialah Hetifah sjaifudian wakil ketua Komisi X DPR RI yang membidangi Pendidikan serta Pariwisata. Diungkapkan Hetifah, bahwa hilangnya Yusuf di Sekolah Didiknya ini jelas kelalaian pihak PAUD. Mendengar berita tersebut, dari Jakarta Hetifah sigap menghubungi pihak terkait, seperti Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarina, Wakil Walikota Samarinda, serta Kapolres Samarinda.

yusuf
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian

“berita ini memang sangat membuat saya kecewa, dimana sekolah didik yang menjadi harapan orang tua sekaligus sebagai rumah kedua bagi siswa, kok bisa sampai melakukan keteledoran itu. Saya sudah telpon Kadis Pendidikan, dan minta untuk sekolah itu segera di Audit, periksa ijin dan administrasi lainnya. Saya juga sudah hubungi Kapolres Samarinda, dan beliau sampaikan Kasus ini sudah masuk tahap menunggu hasil tes DNA dari pakar Porensik di jakarta,” jelasnya

“ini sudah dalam penanganan pihak yang berwenang, harapan saya, pihak keluarga dan teman teman Relawan bisa memberikan kepercayaan Penuh kepada pihak tersebut. Saya juga pastinya turun ikut mengawal kasus ini. Ini menjadi pelajaran penting bagi para pendidik di Kaltim,” lanjutnya

Berita Terkait  Warna-Warni Kampung Ketupat

Sampai dengan saat ini, belum ada hasil yang diharapkan oleh pihak keluarga dan relawan dari Polsek Samarinda Ulu. Waktu yang dianggap sudah terlalu lama ini, membuat Rina dan Tim terus melakukan aksi Solidaritas untuk mengawal kasus agar tidak tenggelam dan dianggap hilang.

“sampai hari ini saya dan kawan-kawan terus mengupayakan untuk mengawal kasus ini. Bukan maksud mendesak pihak kepolisian, bukti serta reka adgena pencarian yusuf sudah semua di lakukan dan di ambil oleh polsek Samarinda Ulu, masa masih belum tau meninggalnya Yufus, apalagi katanya mereka melakukan tes DNA kepada Mayat itu, itu sudah hampir 1 bulan, masa belum keluar juga hasilnya. Kita harapkan ini segera di umumkan, benarkan itu ananda Yusuf atau bukan,” papar Rina

Namun demikian, komentar masyarakat samarinda melalui sosial media yang di gunakan sebagai penyalur informasi itu, menerangkan bahwa para Netizen menganggap Yusuf telah di bunuh oleh oknum yang tidak memiliki hati nurani. (erl)

Advertisement