Beranda lifestyle Ketika Para Ahli Menentang Blue Monday Jadi Hari Paling Menyedihkan…

Ketika Para Ahli Menentang Blue Monday Jadi Hari Paling Menyedihkan…

Blue Monday
ilustrasi (getthelabel.com)

Samarinda, Nitizen – Blue Monday dianggap sebagai hari yang paling menyedihkan dalam setahun. Tetapi, sebenarnya sangat sedikit penelitian dan sains untuk menyatakan ini.

Keberadaan hari itu seolah meremehkan depresi, kata para ahli kesehatan mental.

Blue Monday awalnya diciptakan oleh sebuah perusahaan travel yang bertujuan untuk menjual liburan di bulan Januari, dan dengan cepat berubah menjadi peluang pemasaran di seluruh dunia.

Ini menjadi cara mudah untuk menjual produk dan layanan, yang seharusnya bisa membuat orang merasa lebih santai.

Namun para ahli mengatakan, hal itu dapat merusak.

“Ide bahwa ada satu hari tertentu di mana kita kemungkinan besar akan mengalami depresi adalah sangat tidak ilmiah dan tidak boleh disepelekan, karena bisa menjadi kondisi serius, melemahkan, dan berpotensi mengancam jiwa,” kata Stephen Buckley, kepala informasi di badan amal kesehatan mental Mind, kepada HuffPost UK.

Satu dari enam orang akan mengalami depresi di beberapa titik dalam kehidupan, dan itu dapat mempunyai efek yang menghancurkan.

Berita Terkait  Istri Perdana Menteri Spanyol Positif Corona

Gejala umum dapat mencakup ketidakmampuan untuk tidur, kehilangan arah akan masa depan, merasa putus hubungan dari orang lain, dan memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Laura Peters, kepala saran dan informasi di Rethink Mental Illness, setuju dengan Buckley bahwa tidak ada bukti yang menyebut Blue Monday — yang jatuh pada 20 Januari tahun ini– adalah hari ketika sebagian besar orang merasa depresi.

“Tak ada ilmu yang melatarbelakangi itu,” katanya. “Tidak ada namanya hari paling menyedihkan dalam setahun.”

Istilah “Blue Monday”

Dr. Cliff Arnell, pria yang menciptakan istilah “Blue Monday” lalu meminta maaf dan mengatakan ia tak pernah bermaksud agar orang merasa kesal padanya.

Bahkan, ia menyebut bahwa dirinya hanya melakukan hal itu guna mendorong orang-orang agar melihat sisi positif sebagai kesempatan untuk awal dan perubahan baru.

Namun, semuanya sudah terlambat sekarang, dan 14 tahun waktu berjalan, Blue Monday menjadi hari kesadaran yang tak bergerak di kalender Inggris.

Seluruh gagasan Blue Monday, yang menunjukkan ada satu hari ketika depresi entah bagaimana “menyerang” lebih dari biasanya, memberi informasi yang salah tentang penyakit mental, kata Buckley.

Berita Terkait  5 Tips Berburu Kuliner Yang Bikin Liburan Kamu Makin Hemat!

Faktanya adalah orang-orang hidup dengan depresi sepanjang tahun. “Ini adalah penyakit serius yang merupakan faktor penyebab bunuh diri –pembunuh terbesar kedua pada orang berusia di bawah 29 tahun secara global,” tuturnya.

Lalu mengapa tampaknya menjadi hari yang begitu populer? “Seperti halnya mitos yang baik dan berdasarkan pada sedikit kebenaran,” Peters mengatakan.

“Suasana hati dan kesejahteraan kita dipengaruhi oleh lingkungan kita, dan bulan musim dingin yang gelap dapat membuat beberapa orang mengalami suasana hati yang buruk.”

Namun, ada hal-hal positif tak terduga yang keluar karena Blue Monday. Sebagai contoh, beberapa orang sekarang menggunakan Blue Monday sebagai kesempatan untuk mengumpulkan dana, dan kesadaran akan kesehatan mental.

Itu satu-satunya tren terkait dengan Blue Monday yang Buckley harapkan akan terus berlanjut.

Orang Samaria menjalankan Brew Monday sebagai cara untuk mengubah hari itu menjadi sesuatu yang positif.

Teman, keluarga, dan rekan kerja disarankan mengobrol dan menikmati minuman bersama, agar tak merasa kesepian. Ini juga menjadi momen mengumpulkan dana untuk amal.

Berita Terkait  Mimpi Fanny Fabriana Bikin Brand Fashion Muslim

“Stigma di sekitar kesehatan mental menurun, sebagian berkat gerakan seperti Time to Change,” kata Buckley.

“Jadi tidak mengherankan banyak orang menggunakan Blue Monday sebagai kesempatan untuk melakukan aktivitas yang baik –dari berbicara dengan teman-teman tentang kesehatan mental mereka hingga mengumpulkan uang dari pekerjaan mereka.” (kompas.com)

Advertisement