NITIZEN.CO.ID – Fungsi dan tugas utama jurnalisme tidak berubah. Yang berubah adalah platform-nya. Disrupsi di era digital ‘memamah’ media massa. Konvensional. Media online juga.  Tren ini harus disikapi dengan inovasi dan kreativitas dari perusahaan media dan pekerja jurnalistik agar survive dan tetap menjadi rujukan publik.

Hal ini terungkap dalam diskusi daring menyambut Hari Pers Nasional 9 Februari 2021, pada Minggu 7 Januari 2021 dengan tema  Jurnalisme Berkualitas: Menguatkan Keberlanjutan dan Penerbitan Pers Guna Menyehatkan Demokrasi di Tengah Gempuran Disrupsi Digital.

Narasumber webinar adalah Kepala Kantor Staf Kepresidenan Jenderal TNI (purn) Moeldoko, Chairman CT Corp Chairul Tanjung, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Tri Agung Kristianto, CEO Tribun Network Dahlan Dahi, Dosen Pascasarjana FISIP UI Dr Eriyanto dengan moderator Uni Lubis, Pemimpin Redaksi IDN News. Diskusi daring ini dibuka Ketua Dewan Pers Prof Dr Moh. Nuh dan Ketua PWI Pusat Atal Depari.

Sebagai pemilik media besar, Chairul Tanjung ditodong pertanyaan oleh Uni Lubis soal bagaimana kiat menghadapi era digitalisasi sekaligus krisis pandemi COVID-19. “Media konvensional terkena dampak sangat luar biasa dengan digitalisasi. TV juga. Dampaknya spending orang beriklan lebih kecil. Karena dagangannya berkurang. Konsumsi berkurang. Orang belanja pun berkurang,” katanya.

Disrupsi dan pandemi, kata dia, lebih menguntungkan media digital meskipun tantangan semakin besar. Karena itu, semua langkah harus dilakukan untuk survive.

Caranya bagaimana? Ketahui perilaku konsumen yang terus berubah. Dari situ ada peluang harus ditangkap. “Contohnya, dulu konferensi dan seminar pake ruangan besar. Sekarang pake room digital. Itu bisa menghasilkan uang. Tanpa keluar uang banyak. Dalam keadaan pandemi, harus bisa inovasi. Melihat masalah sebagai tantangan dan peluang.  Kedua, kreativitas, hasilkan sesuatu yang tak pernah dipikirkan orang,” tegasnya.

LIHAT JUGA  Hadapi Banjir, Jaringan Telkomsel Terus Layani Masyarakat di Kalimantan Selatan

CT mengutip Mari Elka Pangestu, Direktur Pelaksana, Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia yang menyebut perlu waktu panjang untuk recovery ekonomi pascapandemi. “Tetap ada pertumbuhan walau sedikit. Kepada teman-teman media, saya mau bilang kue tetap besar dan bertumbuh. Tapi, tidak seperti biasa. Semakin banyak pemain, semakin banyak permintaan pembagian kue. Besar kecilnya kue yang didapat tergantung dari kapasitas dan keunggulan media itu sendiri,” katanya lagi.

Soal digitalisasi, pengusaha yang dijuluki ‘Si Anak Singkong’ ini menyitir begitu mudahnya orang membuat TV, saat ini. Dulu, membuat stasiun TV butuh ratusan miliar hingga biaya triliunan. Dengan platform Youtube, orang bikin TV tak perlu modal besar. “Hanya modal kamera kecil, satu komputer, bikin konten, sudah jadi TV,” tukasnya tertawa.

TAK BOLEH BERDIAM DIRI

Tri Agung mengatakan, Kompas telah menyiapkan diri menghadapi disrupsi sejak 1995. Kompas, kata dia, sadar benar bahwa media harus terus berinovasi. pendapatan tak lagi harus bertumpu pada iklan.

Harian Kompas sudah merintis Kompas Online, yang pada akhirnya menjadi Kompas Cyber Media, lalu Kompas.com. Perkembangan berikutnya, ada epaper.kompas.com, print.Kompas.com, dan Kompasiana.com. Sebelumnya Kompas Gramedia juga mengembangkan sejumlah koran daerah (kelompok Tribun), majalah, tabloid, tribunews.com, dan juga televisi (KompasTV dan Trans7).

Lalu, sejak tahun 2017 Harian Kompas mengembangkan Kompas.id sebagai kepanjangan tangan digitalnya, setelah tahun 1995 melahirkan Kompas.com. Kompas.id adalah media digital berbayar dan premium. Kompas juga mengembangkan media social dan event untuk menopang jurnalisme yang dikembangkannya.  “Saat ini registered users Kompas.id mencapai lebih dari 900.000 orang,” katanya.

Dikatakannya, jika media ingin survive, tak ada jalan haruslah me-leverage bisnis, terutama mereka dengan skala bisnis kecil dan menengah. Mengandalkan bisnis secara tradisional, hanya akan membawa media kepada liang kubur lebih

LIHAT JUGA  Dua Rumah di Kampung Baqa Tinggal Bara

Pandemi Covid-19, lanjut dia, pada satu sisi menjadi tantangan berat, karena sejumlah media tumbang, tetapi juga memberikan peluang konvergensi dan integrasi. Sebagian masyarakat tak keberatan membayar konten digital yang berkualitas. Apalagi, kepercayaan publik pada media massa meningkat.

Seperti organisme, bebernya, media massa pun bertumbuh dari “newsroom” — “newsbrand” — “news commerce” – “news community” — “news collaboration” – “news incorporation” (“newsincorp”). “Berita atau konten menjadi “modal”untuk “penggabungan” berbagai usahauntuk menopang jurnalisme,” katanya.

Sebelumnya, Mohammad Nuh juga menekankan bahwa disrupsi mengharuskan kita untuk mencari jalan baru (new journey). Teknologi digital sudah merambah semua lini kehidupan. Kata dia, synergy dan convergence adalah fenomena kemestian pada era digital. (*)

Penulis: redaksi nitizen